Masjid Istiqlal Fasilitasi Dialog Wakil Presiden Amerika Serikat dengan Para Tokoh dan Pemuka Agama.

32

MASJID ISTIQLAL, JAKARTA. Wakil Presiden Amerika Serikat, Michael Richard Pence, didampingi istri dan dua putrinya, mengunjungi Masjid Istiqlal, dan berdialog dengan perwakilan para pemuka agama, antara lain dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, MUI, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN), Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), juga perwakilan dari Indonesian Society for Organisation of Islamic Cooperation (ISOIC) di Ruang VVIP Masjid Istiqlal (20/04/2017).

Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal, Dr. DB. KH. M. Muzammil Basyuni, yang juga Ketua ISOIC, dalam sambutannya menjelaskan bahwa Masjid Istiqlal adalah Masjid terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Masjid yang didirikan sebagai perwujudan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia ini dinamakan “Istiqlal” yang berarti kemerdekaan. Masjid ini didirikan sebagai simbol kemerdekaan dan perdamaian. Moto Masjid Istiqlal adalah menjadikan Indonesia di mata dunia, di telinga dunia, di pikiran dunia, di hati dunia, sebagai Indonesia yang besar, negara yang bersahabat dan hangat, dengan wajah cemerlang dan senyum yang indah.

Sedangkan Wakil Presiden Pence dalam sambutannya mengatakan, ia sengaja membawa istri dan kedua putrinya untuk lebih mengenal Indonesia. Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim, salah satu negara demokratis terbesar di dunia, dan mampu meramu keanekaragaman itu dengan luar biasa. Karena itulah, Pence ingin berdialog dan mendengar dari para pemuka agama bagaimana proses keberagaman ini bisa dijalankan.

Acara dialog keagamaan ini dimoderatori oleh Yenni Wahid dari Wahid Institute yang juga sebagai co chair dari US-Indonesia Council on Religion and Pluralism. Yenni mengatakan Indonesia adalah negara dengan muslim terbesar di dunia. Namun demikian, Islam bukan satu-satunya agama resmi negara, karena Indonesia mempunyai 6 agama resmi. Setiap agama mempunyai hari libur keagamaan yang diakomodir negara. Jika ada masyarakat satu agama merayakan hari-raya keagamaan, semua saling menghargai antara satu dengan yang lain.

Kehidupan masyarakat di Indonesia adalah saling menghargai antara satu dengan yang lain. Kemarin baru saja dilangsungkan Pilkada DKI Jakarta, Gubernur terpilih adalah gubernur muslim moderat. Pilkada berlangsung demokratis dengan tingkat partisipasi tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak bertentangan dengan demokrasi. Apalagi, partisipasi perempuan dalam demokrasi juga cukup tinggi di Indonesia.

Namun demikian, mempromosikan Islam moderat di Indonesia memang mempunyai tantangan. Bagaimana masyarakat agar tidak terjebak kepada kekerasan dan radikalisme. Karenanya, diperlukan kerjasama lebih erat dari berbagai pihak, baik pemerintah, organisasi sosial keagamaan, maupun organisasi masyarakat.

Sementara Henriette Lebang dari PGI mengatakan bahwa Indonesia sangat plural, terdiri dari berbagai etnik, agama, dan pilihan politik. Yang menyatukan Indonesia adalah filsafat Bhinneka Tunggal Ika, Unity in Diversity. Kita belajar untuk hidup bersama. Indonesia ini rumah kita bersama, karena itu kita bertanggung jawab membangun negara dan kesejahteraan masyarakat secara bersama.

Keberagaman untuk hidup bersama adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga. Tugas kita menjaga dan merawat keberagaman itu dalam rumah besar Indonesia. Tugas kita bagaimana kita saling menjaga, menghargai, menghormati, tanpa melihat apapun latar belakang suku, agama, dan bangsa mereka. Dengan demikian, akan tercipta kedamaian di muka bumi ini.

Yahya C. Tsaquf, Katib Am PBNU mengatakan bahwa organisasi Nahdlatul Ulama sangat peduli dengan masalah keberagaman Indonesia. NU memahami adanya potensi konflik antar agama. Kita sudah melakukan cukup banyak hal, tapi ada tantangan dari radikalisme. Karena itulah Yahya mengajak untuk melihat kepada diri kita sendiri, mungkin ada yang salah dengan pemahaman tentang agama.

PBNU melihat perlunya pendekatan baru terhadap radikalisme dan ekstremisme. Tidak lagi sebatas penanganan lokal, tetapi perlu pendekatan global karena akarnya sudah mengglobal. Kerjasama dengan berbagai negara, termasuk dengan Barat diperlukan untuk membangun keamanan dan setabilitas global. Indonesia punya banyak hal yang bisa ditawarkan untuk mengembangkan Islam yang lebih ramah. Di sinilah Indonesia bisa berperan besar dalam kerjasama ini.

Sekretaris Pimpinan Muhammadiyah Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa Muhammadiyah memiliki hubungan baik dengan berbagai organisasi Islam di seluruh dunia. Dari Amerika kita belajar bagaimana demokrasi berjalan di sana. Muhammadiyah juga memberikan perhatian besar dengan perkembangan radikalisme dan kekerasan atas nama agama. Karena itulah, kita perlu lebih banyak dialog di dalam internal agama sendiri (intra-religious), dan antar-agama (inter-religious).

Muhammadiyah berharap Amerika Serikat mempunyai langkah-langkah yang lebih kongkrit dalam mempromosikan perdamaian, terutama di Timur Tengah. Karena bagaimanapun, perdamaian di Timur Tengah tidak hanya akan berdampak regional di Timur Tengah, tetapi akan dirasakan di seluruh dunia. Karena itulah, penting agar Amerika punya peran lebih besar untuk perdamaian di kawasan.

KS Arsana dari PHDI mengatakan, Indonesia terdiri dari banyak warna tetapi disatukan oleh Pancasila. Kita satu dalam perbedaan, dan Pancasila menyatukan semuanya. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang menghargai satu dengan yang lain. Kita percaya bahwa kita hidup dalam satu rumah. Mungkin kita berbeda, tetapi masih yakin bersatu.

Hal inilah yang bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat dunia. Karena itulah, Arsana mengusulkan untuk bisa membangun inisiatif adanya forum untuk dialog bersama antar-agama. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga bersama dengan Amerika.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar yang juga mendampingi Pence, mengatakan bagaimana menjadikan Istiqlal sebagai masjid modern di Indonesia. Indonesia punya sekitar 900 ribu masjid, adalah bagaimana masjid-masjid ini bisa saling terhubung dan bekerja sama antara satu dengan yang lain.

Semantara tokoh Din Syamsuddin, mengisyaratkan bahwa hubungan Indonesia dan Amerika perlu direvitalisasi. Perkembangan global meniscayakan kerjasama lebih erat dalam mengantisipasi berbagai hal.

Konflik antar-agama sekarang ini lebih banyak dipicu oleh hal-hal di luar agama seperti politik, ekonomi, sosial, dan hal lainnya. Para pemimpin agama bisa saling berkolaborasi. Amerika bisa lebih berperan kongkrit dengan mengajak para pemimpin Agama untuk saling berdialog. Para pemuka agama bisa mengunjungi White House, dan berbagai tempat bernuansa religius di Amerika untuk saling mengenal dan lebih memahami satu dengan yang lain.

Menanggapi itu semua, Wapres Pence mengatakan bahwa, Amerika Serikat mempunyai komitmen kuat untuk mengembangkan kerjasama strategis dalam berbagai bidang, mulai dari keamanan, kesejahteraan, perdagangan, investasi, dan juga kehidupan sosial keagamaan. “Saya adalah orang yang taat beragama, saya percaya Tuhan, karena itu saya menyambut baik usulan dialog antar-agama, sehingga mewujudkan kedamaian di muka bumi ini”.

Sebelumnya, Pence dan rombongan berkeliling melihat-lihat arsitektur Masjid Istiqlal didampingi Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal, Dr. DB. KH. M. Muzammil Basyuni dan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph Donovan.

Turut menyambut Pence dan rombongan, Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal, Dr. DB. KH. M. Muzammil Basyuni, Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar. MA., Wakil Ketua BPPMI, KH. Bahrul Hayat, Ph.D., Sekretaris BPPMI, KH. Rusli Effendi, S.Pd.I, SE, MS.i dan unsur pimpinan lainya. (AZ-BSA)